Membangun Serta mewujudkan Tuban Sejahtera, Berkeadilan, Berbudaya, Berdaya Saing dan Berbasis Lingkungan Melalui "Mbangun Deso Noto Kutho"

Artikel

Sejarah Desa Leran

26 Agustus 2016 15:38:09  Smart Village  240 Kali Dibaca 

Pada masa pemerintahan Bupati Citrosumo, Bupati Tuban, wilayah Tuban dan sekitarnya khususnya Tuban Selatan sedang dilanda huru-hara, yaitu merajalelanya aksi ‘kejahatan’ Noyo Gimbal. Tak berbilang aksi perampokan yang telah dilakukannya sehingga meresahkan masyarakat luas khususnya kalangan hartawan, tuan-tuan tanah. Karena aksi-aksi yang dilakukannya itulah sehingga kepadanya diberikan julukan “Brandal Noyo Gimbal”.
Sebenarnya sudah berbagai usaha dilakukan untuk menumpas atau setidaknya mengendalikan aksi-aksi Noyo Gimbal. Namun, sejauh itu usaha-usaha tersebut belum membuahkan hasil. Bahkan aksi-aksi Noyo Gimbal semakin menjadi-jadi. Hal tersebut semakin menimbulkan keprihatinan yang mendalam dikalangan penguasa pemerintahan kabupaten Tuban. Puncak keprihatinan itu adalah dikeluarkannya sayembara oleh bupati Tuban. Bunyi sayembara itu adalah “Bahwa barang siapa yang mampu menghentikan atau menumpas aksi ‘kejahatan’ Noyo Gimbal kepadanya akan diberikan 1/5 dari wilayah kabupaten Tuban. Bahkan dalam versi lain 1/3 dari wilayah Tuban. 
Konon, tersebut lah seorang pemuda pengembara dari Brang Wetan, tepatnya dari daerah Lumajang bernama Sowiryo atau Kerto Wijoyo atau Abul Qosim yang lebih dikenal dengan nama besarnya “Kendil Wesi”. Demi menyaksikan keresahan yang melanda masyarakat luas akibat ulah Noyo Gimbal, tergeraklah hatinya untuk ikut ambil bagian dalam sayembara tersebut. Mendaftarlah Kendil Wesi sebagai peserta sayembara. Sejak itu resmilah dia menjadi utusan (Senopati) Bupati Citrosumo untuk menumpas Noyo Gimbal.
Perburuan terhadap Noyo Gimbal pun dimulai. Berdasarkan laporan telik sandi diperoleh informasi bahwa Noyo Gimbal sering mesanggrah ‘tinggal sementara untuk istirahat’ ( Leran - Leren) di suatu lembah di sebelah utara pegunungan kapur yang berada paling selatan wilayah Tuban. Ternyata tidak hanya Noyo Gimbal lembah ini pun sering menjadi tempat mesanggrah para pengembara dari berbagai tempat.
Pada suatu hari berhasillah Kendil Wesi, Sang Senopati, mendapatkan Noyo Gimbal di lembah tersebut. Kendil Wesi berusaha menasehati Noyo Gimbal dengan baik-baik agar insyaf dan kembali ke jalan yang benar, sehingga tidak perlu menjadi pertumpahan darah lagi. Namun, rupanya nasehat itu tak diacuhkannya. Maka pertempuran diantara keduanya tak lagi dapat dihindarkan.
Dengan gagah berani dan jiwa kesatrianya Kendil Wesi menggempur Noyo Gimbal. Sebaliknya, dengan segala ketidakdayaan yang dimiliki Noyo Gimbal meladeni gempuran Sang Senopati. Keduanya secara bergantian saling menyerang dan menghindar. Karena keduannya sama-sama sakti, pertempuran itu pun berlangsung sangat lama, sehingga tempat pertempuran yang basah itu seperti ‘dikebur-kebur’ (diaduk-aduk). Sejak berlangsungnya pertempuran antara Kendil Wesi dan Noyo Gimbal sampai sekarang tempat itu diberi nama KEBURAN. 
Setelah sekian lama bertempur akhirnya Kendil Wesi berhasil melukai Noyo Gimbal. Darah mengucur dari Noyo Gimbal, membasahi sebagian tanah disisi sebelah Barat medan pertempuran. Tanah yang terkena tetesan darah Sang berandal itu sampai sekarang apabila dicangkul (diambil) oleh seseorang, orang tersebut akan terkena penyakit gatal. Konon ada yang mengatakan bahwa darah yang menetes dari tubuh Noyo Gimbal adalah darah putih. Darah suci. Karena sesungguhnya orang-orang yang dirampok oleh Noyo Gimbal adalah hartawan, tuan-tuan tanah yang menjadi antek ‘kaki tangan’ Belanda. Sementara oleh Noyo Gimbal hasil rampokan itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang kecil yang hidupnya sengsara.
Akhirnya, karena merasa semakin terdesak Noyo Gimbal berlari ke arah Timur, meninggalkan medan pertempuran. Sang Senopati tidak tinggal diam. Demi melihat musuhnya kabur, ia pun terus memburunnya. Tidak seberapa, lama, di bukit yang tidak terlalu jauh dari medan pertempuran sebelumnya, Kendil Wesi berhasil mengejar Noyo Gimbal pertempuran kembali terjadi. Namun, kali ini tidak seseru sebelumnya karena Noyo Gimbal dalam kondisi terluka. Semakin lama Noyo Gimbal semakin terdesak. Pertahanannya semakin rapuh. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kali ini Noyo Gimbal benar-benar mengalami nasib sial. Kendil Wesi berhasil membunuhnya. Kepala Noyo Gimbal dipenggal dan ditancapkan di atas ujung tombak. Untuk beberapa lama kepala itu dibiarkan terpanggang dibawah sinar matahari ( sampai saat ini tempat atau lahan berukuran kurang lebih 9 m² yang ditancapi kepala Noyo Gimbal itu tidak ada yang berani menggarap, konon apabila ada yang menggarap maka orangnya terkena penyakit gatal) sebelum akhirnya bersama tubuhnya dikebumikan di Bleboh (sekarang termasuk wilayah kabupaten Blora). Sejak peristiwa itu sampai sekarang tempat menancapkan kepala Noyo Gimbal tersebut diberi nama SEDENDENG. (Dendeng: daging yang dikeringkan dibawah sinar matahari).
Sebagai penghormatan atas jasa-jasa Kendil Wesi yang telah berhasil mengakhiri petualangan Noyo Gimbal, sebagaimana janjinya, Bupati Citrosomo menyerahkan wilayah Tuban Selatan kepada Sang Senopati. Dalam suatu upacara resmi Kendil Wesi diarak Bonang Renteng untuk menancapkan batas wilayah Tuban-Blora yang sekarang, sebagai batas wilayah kekuasaan yang dianugrahkan kepadanya. sedangkan Kendil Wesi dimakamkan di Desa Leran dan Namanya diabadikan dengan menjadi nama jalan Gang di Desa Leran yaitu Jalan MBAH KENDIL WESI.
Sejak saat itu lah daerah lembah yang sering menjadi pesanggrahan Noyo Gimbal dan para pengembara lainnya itu dinamakan LERAN.

Punggawa Desa
10 September 2021 16:03:29
Segera diupdate datanya, masyarakat butuh informasi yang uptodate

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Aparatur Desa

Back Next

Statistik Penduduk

Arsip Artikel

31 Mei 2022 | 40 Kali
Kue "JAJAN BANTAL''
31 Mei 2022 | 35 Kali
Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM)
22 Maret 2022 | 77 Kali
Laporan Pertanggungjawaban APDES Tahun 2021
22 Maret 2022 | 75 Kali
Publikasi APBDES Leran Tahun 2022
22 November 2021 | 126 Kali
Vaksinasi Door to Door
18 November 2021 | 112 Kali
Genjot Vaksinasi
26 Agustus 2016 | 240 Kali
Sejarah Desa Leran
29 Juli 2013 | 1.426 Kali
Kontak Kami
26 Agustus 2016 | 240 Kali
Sejarah Desa Leran
24 Agustus 2016 | 152 Kali
Pemerintah Desa
26 Agustus 2016 | 146 Kali
Wilayah Desa
30 April 2014 | 142 Kali
Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga
24 Agustus 2016 | 139 Kali
Visi dan Misi
29 Juli 2013 | 131 Kali
Badan Permusyawaratan Desa
30 April 2014 | 118 Kali
Karang Taruna
31 Mei 2022 | 35 Kali
Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM)
29 Juli 2013 | 1.426 Kali
Kontak Kami
07 November 2014 | 117 Kali
Tupoksi
22 April 2014 | 94 Kali
Pengaduan
24 Agustus 2016 | 139 Kali
Visi dan Misi
30 April 2014 | 129 Kali
Prestasi Desa

Agenda

Sinergi Program

Tuban Satu Data
Pengaduan Layanan Publik
Tuban Smart City
JDIH Kabupaten Tuban
Indeks Desa Membangun
DTKS Kemensos

Komentar Terbaru

Info Media Sosial

Wilayah Desa

Lokasi Kantor Desa


Kantor Desa
Alamat : Jl. Prawirosadir No. 126 Leran
Desa : Leran
Kecamatan : Senori
Kabupaten : Tuban
Kodepos : 83355
Telepon :
Email : pemdesleran246@gmail.com

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:95
    Kemarin:77
    Total Pengunjung:35.656
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.234.210.25
    Browser:Tidak ditemukan